May I Complete the Constellation? ☆dedicated to the8 on 8th nov☆
Bila diingat-ingat kembali, langit malam pernah menjadi teman ceritaku untuk waktu yang lama. Dulu sekali, aku senang berlarian di halaman, menatap luasnya angkasa sambil bersenandung ria, menyanyikan sebuah lagu soal apa yang kurasa, mendendangkannya pada rembulan yang berpendar indah.
Pikiranku kala itu, “Ah, seseorang yang tinggal di Bulan pasti menyukainya!” Terdengar konyol bagiku yang sekarang sudah 18 tahun, tapi sama sekali tidak untuk aku yang dulu kerap melakukannya.
Jelas begitu karena dulu aku benar-benar tidak tahu harus menyuarakan apa yang di kepala kepada siapa, aku... tidak ingin orang-orang kebingungan dengan apa yang aku utarakan. Gadis kecil yang senang berkeliling mengitari tanah lapang ditemani bulan dan bintang itu saja kebingungan dengan pikirannya sendiri.
Seiring waktu berjalan, kebiasaan itu memudar. Realita menampar gadis kecil itu keras-keras.
“Nyata bahwa kelinci tidak tinggal di Bulan sambil mengaduk adonan mochi!”
Tersentak dengan pikirannya, gadis kecil yang tak lain dan tak bukan adalah aku, yang telah mengetik sesuatu yang entah bisa disebut dengan surat ini, tersadar sepenuhnya bahwa fantasi bukan lagi sesuatu yang bisa menjadi penawar dalam hidup.
Bila seseorang bertanya dengan singkat,
“How is life going?”
Jawabanku kira-kira akan seperti ini, “Sometimes, life being harsh to me. When they've done to hit me so hard, I start to brace myself that I can be rough to life itself. It's not because I'm cruel, I just try to give myself strength.”
Jawaban itu, terbentuk atas apa yang sudah hidup ajarkan padaku. Semakin sadar bahwa hidup tak melulu sesuai ekspektasi, tak selalu indah seperti dongeng sebelum tidur. Bahkan, dongeng-dongeng yang pernah aku dengar saja belum tentu mengandung kebahagiaan. Rasanya, fantasi kian lama menjadi ilusi.
Walau begitu, sesekali aku kembali mendongak bila purnama mulai menampakkan diri. Serasa melepas rindu, ketika menatapnya, memori berseliweran, mengundang gelak tawa atau isak tangis.
Seringkali, aku memilih diam. Aku membungkam perasaanku yang membuncah. Dari situ, kalau sudah tak ada lagi wadah, semua tumpah ruah. Aku menangis. Kembali bergelut dengan pikiranku yang kadang terdengar bengis.
Haha, kamu benar. Bantal bisa jadi pendengar setia tiap air matamu mengalir tanpa diminta.
Kamu benar, bukan menjadi seperti orang lain yang baik di mata kita, tapi menjadi versi terbaik bagi diri kita sendiri.
Aku sempat berpisah dengan apa-apa yang bersinggungan denganmu, benci tak menjadi sebab, aku hanya butuh rehat. Kemudian, banyak kejutan saat aku memutuskan menengok pintu yang telah lama kututup rapat.
Aku terkesan dengan perubahan pesatmu. Duh, kapan sih kau tidak membuat setiap orang terkesan? Kamu kan bersusah payah untuk itu, benar begitu?
Kalau boleh kusebutkan, salah satu hal yang membuatku terkesan adalah kau menggambarkan perasaanmu, bukan hal yang mudah ya? Itu menjadi tak mudah ketika kita masih membatasi pikiran kita dengan sesuatu yang terlalu konkret. Padahal, perihal rasa bisa jadi lebih abstrak dari bentuk yang kita ketahui.
Dari gerakan, goresan, nyanyian, kurasa aku bisa tahu, ada perasaanmu disana.
Di hari perayaanmu, tergambar jelas pada raut wajahmu. Kamu bahagia dan bersyukur karenanya. Coba tebak? Ah, tidak perlu ya, kan sudah ketahuan....
Bahagia, dalam sepersekian detik, menit, atau jam, kita berhak merasakannya. Kadang tidak perlu kita sendiri yang melalui momen menyenangkan itu, bila menyederhanakan definisi bahagia, melihat orang lain yang merasa saja sudah lebih dari cukup.
Ada suatu hal yang kurasa akan menjadi amat membahagiakan selama itu kenyataan. Aku selalu ingin mengelilingi kota atau menyusuri jalan setapak atas keinginanku sendiri. Aku selalu ingin memiliki percakapan sembari mengamati hasil karya pilihan yang terpajang di pameran. Aku selalu ingin menenangkan diri sambil menatap deburan ombak di atas pasir pantai yang butirnya menyelinap di sela-sela jariku.
Bagiku, itu sudah cukup. Kalau bersamamu? Bilamana Tuhan berkehendak mempertemukan kita di garis waktu, kau tahu? benar-benar menjadi temanmu, lebih dari cukup bagiku.
“Oh, you who have seen your reflection You realize the light? It's on you, you shine so bright! And there's still more, twinkling by your side Shimmering in the darkness of the night
What a beautiful phenomenon, I've seen Is the whirling wind tells the scene? About me, being one of shining star on sea Just too good to be true, let it be”
ps. let me give you a hint! the word “constellation” in the title refers to seventeen! It doesn't mean that I want to be one of the members— It's about us, carats, complement their constellation with our moments together<3