Sebelum Hari Ini & Setelah Esok
Aku tak akan mengelak kalau mereka pernah dan adakalanya masih menjadi kekuatan yang mendorongku sampai sekarang. Mulanya aku tidak begitu peduli sampai akhirnya aku mencari tahu sendiri. Tanpa sadar, aku sudah terlarut dalam dunia mereka yang gemerlap bak berlian.
Menengok apa yang terjadi dulu, aku tidak bisa tidak mengingat ambisi-ambisi yang sempat kumiliki. Ketika nyala api masih begitu bergairah dan membara, sebelum padam tanpa disiram. Merekalah yang membuat gejolak itu tetap berkobar dan aku akan selalu ingat bagaimana lagu-lagu mereka seakan menjadi bahan bakar atas aksi yang aku lakukan dan pilihan yang aku tetapkan. Terutama, Dino.
Jengah tiap aku mendengar orang harus menanyaiku “Kenapa?” ketika nama “Dino” yang menjadi jawabannya. Apa salahnya? Dia punya pesonanya sendiri lantas apakah aku harus membencinya kalau dia tidak seperti yang lain?
Kalau orang-orang yang dulu mempertanyakan pilihanku melihat apa yang ada sekarang, entah respons apa yang akan mereka tunjukkan, aku jelas yakin kalau bangga adalah perasaan yang dominan. Aku, aku bangga karena bersama waktu, pembuktian itu datang.
Dalam pikiranku, Dino adalah representasi betapa ambisiusnya aku di masa lalu. Bagaimana aku selalu berupaya untuk semangat sekalipun di hari yang berat. Dan kini, setelah aku mencoba untuk kembali membuka pintu yang telah cukup lama kututup, Minghao-lah yang menyambutku dengan kehangatan tutur katanya.
Layaknya es beku yang perlahan mencair lalu mengalir jadi air. Minghao yang dulu tertangkap oleh netraku adalah ia yang tidak begitu banyak bicara karena ia belum fasih benar menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Seiring berjalannya waktu, aku mendapati diriku beberapa kali terpana tiap Minghao menyuarakan isi kepalanya.
Bagaimana ia memperlakukan dan memandang hidup membuatku terinspirasi dan termotivasi untuk bisa mencapai titik pemahaman itu. Minghao berhasil menenangkanku, apa yang ada di dalam diriku, arusnya tak sejeram dulu. Dipikir-pikir bukannya ambisi yang dulu ada sudah tak tersisa lagi. Mungkin saja masih ada, tapi ia tidaklah liar. Masa dan pengalaman berperan besar menjinakkannya. Bisa dikatakan, Minghao adalah representasi dari apa yang ingin aku realisasikan. Realitas yang aku bentuk dengan caraku sendiri.
Terima kasih, SEVENTEEN. Terima kasih pula, Dino dan Minghao. Bilamana rasa ini suatu saat nanti tidaklah sama seperti yang sudah-sudah, aku meyakini kalau kalian akan selalu punya ruang, baik di sudut kepala maupun di relung hatiku. Akan selalu ada saat dimana aku mengenang bagaimana kita saling bertransformasi dengan laju kita masing-masing, bagaimana kita saling menguatkan dengan harapan yang kita layangkan hingga menembus awan dan melesat ke tujuan, dan bagaimana kita perlahan-lahan memahami makna sejati dari pergi dan kembali.